MEMBONGKAR PRASANGKA SEBAGAI LANGKAH INTERGRASI SOSIAL DALAM KONFLIK BERAGAMA

Authors

  • Maleakhi Togatorop Huria Kristen Batak Protestan Author

Keywords:

konflik agama,, prasangka,, klaim kebenaran absolut,, stereotipe sosial,, integrasi sosial.

Abstract

Artikel ini mengkaji penyebab konflik agama dari perspektif sosiologis dengan menyoroti peran pemuka agama yang seringkali menimbulkan prasangka dan klaim kebenaran absolut. Konflik agama muncul akibat sikap superioritas dan penekanan terhadap perbedaan keyakinan, padahal ajaran agama sesungguhnya mengedepankan saling menghormati dan menghargai keberagaman. Sejarah perkembangan agama dari masyarakat pemburu-pengumpul hingga masyarakat multikultural modern menunjukkan bahwa ketidakpercayaan, perbedaan budaya, identitas, serta stereotipe sosial menjadi faktor utama konflik. Teori konflik seperti polarisasi, kebutuhan, dan ketidakadilan membantu menjelaskan dinamika konflik tersebut. Artikel ini menekankan pentingnya sikap integrasi sosial sebagai kunci membangun kerukunan dan harmoni dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia. Keberagaman harus dirayakan sebagai kekayaan budaya, bukan sebagai sumber konflik, dengan saling pengertian dan penghormatan terhadap batas pribadi sebagai fondasi perdamaian.

References

Burhani, A.N. Hating the Ahmadiyya: The place of “heretics” in contemporary Indonesian Muslim society. 8, no. 2 (2014): 133–52.

Esposito, John L, Darrell J Fasching, Todd Lewis, dan Peter Feldmeier. World religions today. New York: Oxford University Press, 2002.

Esposito, John L, Darrell J Fasching, dan Todd Vernon Lewis. Religions of Asia today. New York: Oxford University Press, 2009.

Fenton, A.J. Faith, intolerance, violence and bigotry: Legal and constitutional issues of freedom of religion in Indonesia. 10, no. 2 (2016): 181–212.

Hotimah, Husnul, dan Nurhayati Nurhayati. “Penolakan pembangunan rumah ibadah di Kota Cilegon dalam konteks regulasi dan moderasi beragama.” Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta 5, no. 1 (2024): 134–43.

Intan, B. Religious violence and the ministry of religion: ‘public religion’ in the pancasila-based state of Indonesia. 13, no. 2 (2019): 227–46.

Ismail, Nawari, dan Abdul Ghoffir Muhaimin. Konflik umat beragama dan budaya lokal. Bandung: Lubuk Agung, 2011.

Jegalus, N., A. Atang, dan N.A. Binsasi. Unity in Diversity of Religions in Bumi Flobamora, Indonesia: From Traditional to Modern Pluralism. 23, no. 2 (2024): 703–42.

Menchik, J. Productive intolerance: Godly nationalism in Indonesia. 56, no. 3 (2014): 591–621.

Nasir, M.A. Conflict, peace, and religious festivals: Muslim-hindu-christian relations on the Eastern Indonesian island of lombok. 4, no. 1 (2020): 102–23.

Pangalila, T., dan C.A. Rumbay. Multicultural relation between religious communities in Indonesia. 80, no. 1 (2024). https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-85201822792&doi=10.4102%2fhts.v80i1.9645&partnerID=40&md5=2671a229bc9658be60724dc98591ae68.

Pondy, Louis R. “Organizational conflict: Concepts and models.” Administrative science quarterly, JSTOR, 1967, 296–320.

Schreiter, Robert J. Rancang bangun teologi lokal. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.

Soemardjan, Selo, dan Soelaiman Soemardi. “Antropolgi: Mengungkap Keragaman Budaya.” Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2002.

Soemardjan, Selo, dan Soelaiman Soemardi. “Setangkai Bunga Sosiologi, Jakarta: Fak.” Ekonomi UI, 1964.

Susanto, Dedi, Muhammad Amri Tajudin, dan Abdullah Thalib. “Ekspresi Ideologi Keagamaan: Menyelami Kontroversi Politik Identitas di Indonesia.” CBJIS: Cross-Border Journal of Islamic Studies 6, no. 2 (2024): 272–78.

Zainuddin, M. Plurality of religion: Future challenges of religion and democracy in Indonesia. 9, no. 2 (2015): 151–66.

Downloads

Published

2025-12-13